Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah

Angpau

Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Pengarang : Tere Liye

Tahun Terbit : Cetakan I, Januari 2012

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Kategori : Fiction, Romance

Harga : Rp. 72.000,-

 

Pagi ini, aku akhirnya memutuskan, aku akan memulai kehidupan sebagai: pengemudi sepit!—setelah gonta-ganti pekerjaan selama dua tahun terakhir ini. Sungguh, meski melanggar wasiat Bapak yang mengatakan padaku: ‘Borno, jangan pernah jadi pengemudi sepit’, aku berjanji akan jadi orang baik, setidaknya aku tidak akan mencuri, tidak akan berbohong, dan senantiasa bekerja keras—meski akhirnya hanya jadi pengemudi sepit.

Aku menikmati pekerjaan baruku walau hanya menjadi pengemudi sepit, awalnya aku belajar mesin dan mengemudi sepit terlebih dahulu dengan Pak Tua—tetangga yang kuanggap ayah sendiri. Tetapi ternyata tidak segampang itu Bang Togar dengan seenaknya malah menyuruhku untuk membersihkan jamban di dermaga sepit. Oke, ini ospek, masa orientasi, dan karena dia juga ketua PPSKT (Paguyuban Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta).

Seminggu aku belajar mengemudi sepit hari kelulusanku tiba, akhirnya aku bisa mengemudi sepit secara langsung. Tanpa disangka dan diduga ada seorang gadis berbaju kurung kuning, rambut tergerai panjang, berwajah sendu menawan perawakan Cina yang menumpang dihari pertama aku menarik sepit, alamak perasaan apa ini? Selama dua puluh tahun lebih aku belum pernah jatuh cinta jadi aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Gadis itu, gadis berwajah sendu menawan yang merubah hidupku yang biasa-biasa ini.

Dan di hari itu juga ada barang penumpang yang tertinggal di sepitku, sepucuk surat. Surat bersampul merah, dilem rapi, dan tanpa nama.

 

Sederhana dan ringan …….

Selalu dan selalu novel karya Tere Liye ini—yang sudah kubaca—bertema sederhana. Cerita buku ini hanya seputar kehidupan kecil Borno, lika liku kehidupan Borno dari kecil sampai beranjak dewasa. Oia sebelum aku berbicara tentang isi buku ini, aku ingin mengucapkan terima kasih terlebih dahulu kepada Mba Annisa yang sudah berbaik hati sekali meminjamkan buku ini kepadaku yang walaupun kita belum pernah berjumpa sama sekali😀. Awalnya aku meminjam novel ini karena tentu saja penasaran dengan novel terbaru sang penulis favoritku Tere Liye, dan tanpa disangka juga pihak Gramedia membuat kontes resensi buku ini yang berhadiah iPad kebetulan yang manis lagi dari banyaknya buku yang ingin aku pinjem Mba Annisa malah mengirim buku ini terlebih dahulu padaku. Seperti yang Pak Tua bilang kepada Borno ketika bekunjung ke Surabaya dan tidak mengetahui alamat Mei sang gadis berwajah sendu menawan tentang jangan mengintevensi jalan cerita yang sudah digariskan Tuhan. Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Yup, selalu dan selalu apabila kita percaya pada Allah percaya deh pasti ada jalannya seperti aku sekarang ini bisa mengikuti lomba resensi ini🙂

Kalau selama ini aku disuguhin cerita yang banyakan bikin nyesek dan mewek—walau hanya berkaca-kaca saja. Tidak untuk novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah ini, aku dibuat banyak ketawa dan ngakak dengan tingkah-tingkah Borno dkk dari awal sampai akhir😀. Well sebenarnya bisa dibilang paket komplit juga, ada perasaan kesel, kecewa, cemberut, sedih, penasaran, lucu dan ga bisa berhenti ketawa ketika membca novel ini.

Seperti yang sudah ku singgung di awal, bahwa novel ini hanya bercerita tentang kehidupan Borno dari kecil saat berumur 12th yang sudah ditinggal mati oleh Ayahnya yang seorang nelayan—jatuh tersengat ubur-ubur. Dan Ayah Borno lebih memilih untuk mendonorkan jantungnya. Borno kecil yang belum banyak mengerti hanya bisa menangis dan berteriak ‘Bapak belum mati! Kenapa dadanya dibelah! Dia bisa sadar kapan saja’ yang nantinya kematian Bapak Borno ini merubah segalanya bagi sebagian tokoh yang ada di novel ini. Adalah benar kalau novel ini membuatku tertawa sampai ngakak malah, bagaimana tidak kisah berlanjut terus sampai Borno lulus SMA dan memulai kehidupan barunya dengan berganti-ganti pekerjaan. Nah disinilah poin gonta-ganti pekerjaan Borno menimbulkan kehebohan tersendiri sampai-sampai ada insiden Borno dilarang naik sepit untuk menyebrang sungai Kapuas hanya karena bekerja di kapal Feri, untuk yang mau tau lebih lanjut wajib baca bukunya—tentu saja. Yah walau Borno yang oleh Bang Togar fotonya dilaminating dan ditempel di dermaga menjadi terkenal di kalangan para penumpang tidak menyurutkan niatnya untuk teteap bekerja di kapal feri tapi karena suatu hal Borno benar-benar meninggalkan pekerjaannya itu dan keputusan final menajdi pengemudi sepit. Berbicara tentang sepit, aku pribadi tidak terlalu tahu bagaimana sih sebenarnya perahu sepit dan tanpa basa basi langsung nanya ke mbah google, ini nih penampakannya🙂

Kapuas_edit

Dan berbicara tentang sepit ini, membuatku mau tak mau jadi ingin sekali berkunjung ke kota Pontianak, merasakan indahnya sungai Kapuas dan merasakan bagaimana rasanya meletakkan uang uang di dasar perahu—aturan main penumpang sepit. Sang penulis tanpa perlu ditanya sangat menggambarkan dengan jelas bagaimana keadaan kota Pontianak—termasuk kisah hantu Ponti asal muasal nama Pontianak. Dan dari novel ini pun aku baru tahu kalau keturunan Cina itu mempunyai nama kedua atau nama Nasional, ternyata ruwet juga ya.

Kisah Borno benar-benar dimulai ketika Borno menemukan sepucuk angpau merah sesuai judulnya yang selalu Borno sangka milik ‘sang sendu menawan’. Memang pada akhirnya angpau merah itu milik Mei. Kisah konyol Borno dan Andi—sahabat Borno—yang penasaran dengan keberadaan ‘sang sendu menawan’ ini membuatku senyum-senyum sendiri. Pencarian pemilik sang angpau yang berujung kecewa, pencarian nama sang sendu menawan yang bikin Borno heboh dan berakhir dengan wajah cemberut sang gadis karena namanya dijadikan bahan ledekan, pencarian alasan untuk mengajak kencan Mei, perpisahan, pertemuan di Surabaya sampai selesainya kisah cinta pertama dan cinta pada pandangan pertama Borno sang pemuda berhati lurus sepanjang sungai Kapuas. Memang tidak hanya hal yang indah yang dirasakan oleh Borno, terkadang hal-hal yang sedih pun ada. Kita diajak untuk menelusuri bagaimana proses perjalanan cinta pertama dan cinta pada pandangan pertama Borno. 

Sudu
t pandang dalam novel ini adalah dengan mengambil sudut pandang Borno dan dengan alur maju mundur, aku tidak terlalu paham apa memang alurnya maju mundur atau tidak karena terkadang penjelasan dari satu kejadian baru diceritakan beberapa hari kemudiannya. Alur yang dalam novel ini tergolong cepat dan tanpa basi-basi langsung keinti cerita. Sedangkan untuk typo, tentu saja ada tapi tidak terlalu menggangu aku pribadi dalam menikmati kisah Borno ini, awalnya aku kira tidak bakalan menemukan typo tapi di akhir-akhir cerita barulah tanpa ditunggu nongol sendiri😀. Novel ini dibuat benar-benar bagus oleh Tere Liye karena ini adalah novel ke-4 yang ku baca dan aku sudah mendengar gosip bahwa novel ini bakal happy ending tetapi ada bagian yang tersedih dan paling aku sukai adalah ketika Pak Tua bercerita bahwa cinta yang cocok untuk Andi, cinta adalah perbuatan. Pak Tua bercerita tentang sahabatnya Fulan dan Fulani pasangan buta yang merasakan pahit dan manisnya menjadi pasangan selama berpuluh tahun. Dan tanpa diduga juga tokoh Fulan dan Fulani juga diceritakan kembali ketika Borno dan Pak Tua bekunjung ke Surabaya untuk berobat. Aku sampai berkaca-kaca pas baca bagian ini. Nyesek dan terharu dan iri juga sama pasangan ini.

Secara kesulurahan sudah pasti ini memang novel yang bagus dan menarik sekali. Banyak sekali pesan-pesan moral yang disampaikan Tere Liye dalam novel ini, petuah-petuah Pak Tua yang bisa dipakai untuk pedoman hidup. Entah kenapa tokoh dalam novel ini yang kusukai setelah Borno adalah Andi. Melihat Andi seperti melihat diriku sendiri yang sama-sama suka penasaran hehe.

Dari Andi juga aku jadi mengingat orang-orang terdekatku gara-gara insiden ‘kebohongan si sendu menawan dan ‘pembalasan dendam Borno’. Seperti Pak Tua bilang bahwa Borno yang patah hati karena Mei mengingatkan bahwa ‘Banyak sekali orang yang jatuh cinta lantas sibuk dengan dunia barunya itu. Sibuk sekali, sampai lupa keluarga sendiri, teman sendiri. Padahal siapalah orang yang tiba-tiba mengisi hidup kita itu? Kebanyakan orang asing, orang baru. Kau lupa Borno. Kalau hati kau sedang banyak pikiran, gelisah, kau selalu punya teman dekat. Mereka bisa menjadi penghiburan, bukan sebaliknya tambah kau abaikan.’ Aduh~~~ Kata-kata Pak Tua ini memang dalem banget. Memang kebanyakan dari kita sibuk dengan perasaan diri kita sendiri, merasa yang paling menderita, merasa paling nelangsa dan teman-temannya. Padahal ada orang-orang terdekat kita yang lebih peduli melebihi diri kita sendiri. Novel ini benar-benar mengajarkan hal-hal yang sangat kecil dan mungkin dirasa sepele oleh kita dan setelah membaca novel ini kita baru sadar bahwa sesungguhnya semua hal di dunia ini memang mempunyai porsi sendiri yang tidak kalah pentingnya. Lagi dan lagi dibuat salut sama penulis yang satu ini😀. Insiden ‘pembalasan dendam Borno’ pun tak kalah pentingnya bahwa memang yang namanya balas dendam tidak pernah menguntungkan baik untuk kita sendiri maupun orang lain.

Hebatnya lagi dari awal sampai akhir aku dibuat penasaran sekali dengan nasib surat aka angpau merah yang ditemukan Borno disepitnya. Kita sebagai pembaca dibuat terlena oleh Tere Liye dengan cerita manis dan patah hati perjuangan Borno mendapatkan Mei. Memang aku juga terkadang lupa, tapi dibenakku selalu memikirkan angapau merah itu, sebenarnya ditaruh dimana surat itu sama Borno setelah kecewa Mei bagi-bagi angpau karena menjelang Imlek. Nah kita tanpa paksaan nih jadi selalu kepikiran dan baru merasa plong ketika diungkapkannya rahasia di balik angpau merah di akhir cerita. Lucu dan lucu bener dah pembaca tidak bakalan protes dengan kata-kataku ini Bang Togar yang seperti kita tahu selalu membuat kesal tokoh utama kita Borno sebenarnya baik hati dan tingkahnya yang konyol setelah insiden dipenjara selama enam bulan tak elak membuat kita ngakak😀

Untuk cover novel ini aku suka, walau meurutku agak sedikit suram warnanya merah dan aku malah ga sadar sama sekali kalau yang jadi latarnya adalah perahu sepit dan sungai Kapuas. Mungkin karena aku begitu terpesona dengan sang sendu menawan hehe. Cover yang agak suram ini mungkin maksudnya untuk menggambarkan tokoh Mei yang selalu berwajah sendu, aku pribadi ingin covernya agak cerahan dikit. Ye lah ye lah aku tahu kalau cerah gitu wajah sendu Mei pasti tidak bakalan terlihat hehe.

Banyak benang merah yang terhubung antara tokoh dalam novel ini, walau pun aku berusah menebak-nebak—yang berakhir gagal—aku cukup puas dan agak kecewa dengan ending dari buku ini. Sebenarnya memang sekali lagi novel ini happy ending dan dibuat tuntas tidak ada hal yang menggantung dan membuat penasaran. Tapi tetep aja aku merasa kurang banyak cerita Borno dan Mei ini walau sebenarnya buku ini cukup seksi yang sampai 500hal hehehe

Novel ini diperuntukan untuk semua yang ingin tahu bagaimana indahnya cinda pertama dan cinta pada pandangan pertama, untuk semua kalangan wajib sekali baca novel ini. Baik yang sudah baca maupun belum novel Tere Liye, kisah sederhana Tere Liye tentang pemuda Kapuas🙂

Untuk Borno yang bikin aku pengen naik sepit aku kasih nilai 5🙂

2 thoughts on “Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s